Being optimist isn’t always an optimist option

Saya seringkali menghindari konflik dan menundanya karena saya takut akan konsekuensinya. Beberapa kali saya memiliki pengalaman dimana saya merasa sangat tidak cocok dengan seseorang tetapi saya memilih untuk tidak jujur dengan diri saya sendiri dan berusaha untuk selalu optimis bahwa segalanya akan menjadi lebih baik.

Ibu saya mewanti-wanti, “lah kamu itu sudah tahu kalau tidak cocok, kok ya tetap saja berusaha positif, optimis, malah gak diselesaikan malah ditutupi ketidakcocokkannya?”

Suami saya juga sering bilang “hmmm, lagi-lagi toh, kamu ini, menunda konflik, kan juga bakalan sudah tahu kalau akan terjadi konflik, ditunda kok bertahun-tahun”

Setiap ada ketidakcocokan yang ternyata mau tak mau saya harus terjun didalamnya, alih-alih meninggalkan secara ksatria, saya berusaha optimis dan lapang dada menerima, padahal saya mangkelnya setengah mati.

Apakah menjadi optimis dan positif bisa tidak menjadi pilihan dalam menghadapi konflik ? 

Menurut pengalaman saya, kadang diperlukan akal sehat dan keberanian untuk jujur dengan diri sendiri bahwa sebuah situasi sebenarnya tidak akan menjadi lebih baik dengan sekedar optimis atau berpikir positif.

Buat apa sih menjadi optimis jika sebenarnya kita hanya menunda mengambil keputusan dan tidak mau menghadapi konflik ? Buat apa ? Itu sama saja, membangun bom waktu ke diri sendiri.

Menjadi optimis bukan berarti jika keadaan sangat tidak memungkinkan untuk diperbaiki lalu akan menjadi baik sendiri karena kita optimis. Jika tidak cocok, ya sudah tidak cocok saja. Menjadi optimis itu cuma memperpanjang kesabaran saja, selebihnya kalau memang kita tidak jodoh dengan situasi tersebut, ya kita bakalan keluar dari situasi tersebut kok.

Kadangkala, saya memperlakukan optimisme pada situasi yang salah. Situasinya sudah salah, saya tutupi dengan optimisme. Buat apa ? Itu kebodohan logika saya yang tidak sejalan dengan emosi. Pada akhirnya, sesuatu yang salah tidak akan bisa diperbaiki dengan sekedar logika optimisme. Non sense.

Sesuatu yang memang sudah salah. Ya memang sebaiknya tidak diperpanjang lagi kesalahannya. Itu yang dimaksud dengan sebenar-benarnya optimisme. “Wong wes salah kok diterus-teruske” itu nasehat dari orang tua saya.

Tempatkan optimisme pada takaran yang tepat.

Optimisme akan berjalan dengan tepat bila situasinya memang sudah benar… Ada harapan, ada sinar terang diujung sana, dan itu benar adanya.

Jika sudah tidak ada harapan, tidak ada sinar terang diujung terowongan, itu bukan optimisme yang sebaiknya digunakan tetapi akal sehat bahwa buat apa tetap berjalan pada situasi yang gelap dan tak ada cahaya ? Meski pakai senter, lampu, yang ibaratnya itu optimisme tetap saja jalannya bisa salah.

Saya belajar untuk berani menempatkan optimisme dengan benar. Bukan menjadikannya alasan untuk menunda sebuah konflik. Ya, saya masih belajar, masih ada kemungkinan saya mengulanginya lagi…

Tetapi setidaknya saya sadar bahwa saya menjadi sangat tidak adil dengan orang lain yang saya tidak cocok jika saya tidak jujur dengan hubungan tersebut lalu berharap optimisme memperbaiki situasinya.

Pada akhirnya, saya sendiri yang menciptakan situasi tersebut menyenangkan atau tidak secara jujur… tidak menutupinya karena takut akan konsekuensinya. 🙂

Sometime we just have to surrender and not prentending that everything will be ok when everything isn’t ok at all… That’s my lesson. I still failed on my lesson but I’m willing to be brave for not pretending to use optimistic as a camuflage.

Have a great happy go lucky day for all of us ! Xx.

Advertisements

2 thoughts on “Being optimist isn’t always an optimist option

  1. yusrizal says:

    Wah, kebetulan sekali.
    Saya beberapa hari kemarin membaca sebuah novel satir karya Voltaire berjudul “Candide. Optimisme dalam Hidup.”

    Voltaire disini rupanya bukan mendukung teori optimisme yang menganggap “segala yang terjadi di dunia ini adalah dalam bentuk terbaiknya.”
    Atau dengan kata lain, “Everything’s always gonna be okay.”

    Di karyanya ini rupanya Voltaire malah menyindir prinsip optimisme tersebut. Ga semua hal buruk itu harus disikapi dengan optimis, jika memang bertemu dengan keadaan yang buruk sekali, ya memang ga bisa dipaksakan untuk tetap menerimanya dengan lapang dada sebagai “bentuk terbaik dari alam semesta.”

    Membaca Candide dan artikel ini, saya memperoleh pemahaman baru tentang optimisme.
    Nice article mbak 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s