32 tahun bersiap untuk pilihan hidup ini

Saya baru menyadari bahwa 32 tahun saya hidup, sebenarnya adalah persiapan untuk kehidupan saya yang sekarang. 

Ya, kehidupan saya dengan anak saya tercinta, Daniel.

Saya baru menyadari bahwa 32 tahun saya hidup dengan pembelajaran hidup, jatuh bangun hidup, mempertanyakan esensi dari kehidupan ini, akhirnya saya tahu bahwa setiap orang dipersiapkan oleh alam semesta untuk mempersiapkan makhluk hidup (anak) untuk siap menghadapi hidup, yang akhirnya mereka akan mempersiapkan anak mereka sendiri. Sebuah lingkaran hidup, evolusi yang sangat indah dan juga megah. 

Sangatlah megah karena saya butuh 32 tahun untuk siap menjadi seorang ibu. Segala ketrampilan, pengetahuan, kebijakan, ketidak-bijakan, sifat, cara komunikasi, diri saya utuh tanpa tipuan akan saya turunkan ke anak saya dan itu akan menjadi bekalnya untuk membangun hidupnya sendiri kelak. Betapa ‘telanjang’nya saya dihadapan anak saya. Ia melihat saya utuh, menyerap segala adanya saya tanpa sensor, dari pemikiran, ekspresi, emosi, dan sebagainya. 

Meski baru tiga bulan menjadi seorang ibu, saya menyadari betul bahwa ini ‘pekerjaan’ maha serius, paling serius. Anak menyerap apapun yang saya berikan kepadanya dengan kepercayaan dan kepasrahan total. 

Ya, penuh tanggungjawab tetapi juga sangat megah bagi saya. Saya merasakan anak saya adalah anugerah terbesar yang pernah saya miliki, adalah kemegahan bagi saya karena menjadi ibu yang dapat memberikan segala apa yang saya miliki jiwa, pengetahuan, ketrampilan, materi untuk bekal anak saya mengarungi hidup.

Tidak harus saat ia dewasa, saat ia di sekolah kanak-kanak pun, hasil dari pengasuhan saya akan langsung dipakainya karena itulah yang ia dapatkan dari saya (dari suami, eyang, dan sebagainya tentunya… ^_^)

Kemegahan apalagi yang bisa menandingi anugerah ini. Saya mendapat hak sekaligus kewajiban untuk mempersiapkan seorang manusia didunia ini. 

Oleh karena itu, setelah 32 tahun menjalani hidup dengan 11 tahun terakhir bekerja, saya putuskan untuk berhenti bekerja. Sudah 3 bulan ini saya menjadi ibu rumah tangga, mengasuh Daniel. 

Beberapa teman tidak menduga, sebagian lagi sudah menduga, ternyata tidak ada yang mencela.

Jangan bayangkan hidup saya leha-leha dirumah, ternyata mengasuh bayi lebih penat secara fisik daripada bekerja 12 jam sehari karena saya tidak bisa menunda respon saya ke anak saya. Setiap saat saya harus awas, tenang dan selalu dalam “good mood”.

Saya baru tahu, bayi bisa mengetahui mood ibunya. Jika ibunya sedang panik, dia malah ikutan panik dan nangis, ibunya sedang jengkel, dia ikutan jengkel… Saya jadi harus selalu dalam positif emosi.

Perubahan alokasi fisik yang melelahkan (sekaligus bahagia sepanjang waktu) serta perubahan alokasi kemandirian membuat saya belajar banyak hal tentang diri saya, tentang sikap saya, watak saya dan bagaimana bisa mengatur emosi untuk selalu positif didepan anak saya. Suami saya berkomentar “Sangat indah bahwa kita dapat belajar banyak hal mengenai diri kita dari makhluk sekecil ini”

Bekerja dan belum punya anak, seringkali kita mengedepan “aku”, ego kita tinggi menjulang dan yang terpenting emosi saya happy. Sekarang yang terjadi adalah emosi saya (harus) happy supaya anak saya juga happy. Jadi tidak sekedar “aku happy” tetapi “kita happy”.   

Bagi saya definisi kebahagiaan tidak lagi tentang saya tapi tentang kita. 

Saya memberitahu kebahagiaan ini kepada teman saya dan komentar dia adalah “Berbahagialah kamu yang dapat menjadi ibu rumah tangga, aku ingin sekali tetapi tidak bisa” 

Ya, saya sangat salut dengan ibu yang masih dapat bekerja dan mengasuh anak. Saya memilih untuk tidak melakukannya. Saya memilih untuk menjadi ibu rumah tangga untuk anak saya Daniel. 

Ini pilihan hidupku, kemegahanku….

Anakku adalah kemegahanku mengarungi hidup baru ini. 

Advertisements

5 thoughts on “32 tahun bersiap untuk pilihan hidup ini

  1. Pramoeditya says:

    Kalimatmu bagus, Sekar! Betapa telanjangnya kita di depan anak-anak kita 🙂

    Dan betul sekali, betapa menyenangkannya kita mengenali diri kita sendiri dari setiap hal yang mereka (anak-anak kita) lakukan. Kamu ga akan pernah menyesali keputusanmu untuk mengesampingkan apa yang dulu menurutmu penting, untuk kemudian memilih ‘berada’ di dekat Daniel. Karena ‘waktu’ akan membayarmu dengan kebahagiaan melihat ia tumbuh di dekatmu, di dekap kasih sayangmu setiap detiknya.

    Teruslah ada untuk Daniel-mu 🙂

    Salam,

    – Papanya Adisha Maya Celia, 9 Bulan.

    Like

  2. Olen says:

    I’m there with you mbak. 32 tahun, bertahun2 bekerja, sekolah di luar negeri. Memutuskan berhenti bekerja dan mengasuh anak. My son has been teaching me a lot, patience, compassion, forgiveness and so on and so on.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s