A mixed marriage, is it really that different ?

Hari ini saya membaca sebuah tweet dari temannya teman yang tak sengaja masuk timeline saya, bunyinya : “cewek cantik sama cowok jelek, cewek jelek sama bule”.

Saya jadi mengangguk-angguk dengan geli bahwa stereotipe bule atau orang asing itu sukanya sama cewek Indonesia yang jelek (menurut orang Indonesia sendiri).

Lalu saya jadi membatin “aku jelek gak ya?” karena suami saya adalah bule a.k.a orang asing.

Tweet tersebut masih sedikit dari stereotipe yang sering saya dapatkan, contoh lainnya adalah :

“Oohh, kamu sama bule, iya sih, kamu memang tipe bule… kulitnya coklat” (dalam hati saya ketawa, aha !! pantes cewek-cewek Indonesia heboh memutihkan kulit, wong ya cowok-cowoknya ‘melihat’ mereka cantik dari kulit putihnya).

“Hmm, iya sih, kamu kan kuliah di Belanda, ya pantes, balik Indonesia udah gak mau lagi sama orang Indonesia” (aha!! sebenarnya sih kebalikannya ya, cowok Indonesia yang gak mau sama saya… bener loh ini… entah kenapa).

Dan masih banyak sederet lainnya…

Sebenarnya pernikahan campur antara orang Indonesia dan orang dari negara yang berbeda itu sama saja dengan pernikahan antara orang Indonesia, yang sama-sama suku atau bangsa. Tidak ada bedanya kok, hanya saja, perbedaan saya dan suami saya jelas terlihat yaitu secara fisik. Selebihnya sebenarnya semua pernikahan itu sama.

—————————————————————————————-

Saya menikah dengan suami saya, Luc, karena kami memiliki value yang sama dalam hidup. Saling mencintai itu terlalu luas cakupan pembahasan untuk 1 kali tulisan blog ini. Tetapi secara mendasar kami memiliki value – nilai hidup yang sama.

Nilai hidup masing-masing orang berbeda satu dengan yang lain. Nilai hidup inilah yang menggerakkan seseorang berdaya guna, memilih suatu keputusan, menjalankan sebuah keputusan hidup, tertarik untuk menjalani suatu tahapan hidup, menyukai seseorang, membenci seseorang, membantu orang lain, dan sebagainya.

Nilai hidup seseorang inilah yang membedakan saya bisa menyukai si A, dan teman saya tidak begitu cocok dengan si A.

Teman saya bisa saja memiliki nilai hidup bahwa uang adalah sumber kuasa sehingga menggerakkan dia untuk memiliki uang sebanyak-banyaknya dan ini menggerakkan dia hampir dalam setiap segi kehidupan, karier, keputusan keluar kerja, ambisi, cita-cita bahkan pernikahan kepada siapa ia akan mendaratkan cintanya.

Teman saya yang lain bisa memiliki nilai hidup bahwa kesuksesan dilihat  dari status pekerjaan, jadi gaji tidaklah masalah yang penting posisinya diperusahaan itu layak dibanggakan, sehingga ia juga akan melihat orang lain dari sisi status, semakin tinggi status orang lain, maka semakin hormatlah ia… semakin statusnya “sedikit menurun” maka semakin paniklah ia dibuatnya… dan hal ini juga yang menggerakkan dia untuk menentukan bagaimana prinsip pernikahannya dan kepada siapa ia akan jatuh hati.

Ketertarikan – kesamaan nilai hidup inilah yang menggerakkan 2 orang untuk saling jatuh cinta, berpacaran kemudian putus atau terus ke pernikahan…

Jika nilai hidup keduanya saling melengkapi maka cocoklah hubungan tersebut karena nilai inilah yang membentuk pasangan menjadi semakin kuat dan berdaya guna.

Tetapi bisa saja, karena ketertarikan tidak lagi karena nilai hidup tetapi sekedar kecocokan secara fisik, finansial, posisi, atau saya sudah berumur, ayooo kita cari pasangan hidup karena yang teman-teman sudah menikah, maka nilai hidup yang mendasar menjadi bergeser keposisi tersudut dan hal-hal yang dianggap “urgent” menjadi menyeruak kedepan… Alhasil saat menjalin hubungan, terkuaklah bahwa nilai hidup masing-masing tidaklah sesuai.

——————————————————————————————-

Balik lagi ke pernikahan campur, ya sama saja, pemilihan pasangan hidup pasti dari kecocokan nilai hidup.. apapun itu… Toh, sama saja yang terjadi di pernikahan yang sama bangsa kan ?

Tipe-tipe pasangan pun banyak macamnya dan itu juga ada toh di pasangan sama bangsa ? ^_^

Lalu bagaimana dengan budaya ?

Ya, budaya antar bangsa pasti berbeda dengan budaya yang sama bangsa… Tetapi budaya keluarga juga terlibat didalamnya, kembali lagi ke nilai hidup keluarga… sama atau tidak ? Yang sama bangsa saja bisa konflik antar keluarga kok, hanya karena beda budaya keluarga kan, meski berasal dari kota yang sama…

——————————————————————————————–

Sebenarnya tidak ada yang berbeda dengan pernikahan antar bangsa atau sama bangsa. Jika melihat banyak stereotipe yang terlihat dimana-mana seperti tweet seseorang tadi pagi ya karena secara fisik sudah berbeda jadi mudah terlihat dan mudah diingat orang lain… Pasangan sama bangsa yang ceweknya jelek dapet cowok ganteng atau kaya atau baik juga banyak kan. ^_^

Banyak sekali yang berkomentar kepada saya “Ternyata pasangan beda bangsa juga sama saja ya dengan yang sama bangsa karena kami melihat kalian juga pasangan yang normal, wajar dan saling mencintai”

Ya, pada akhirnya setiap pasangan akan dilihat dari hubungan itu sendiri bukan dari bangsa mana, budaya mana…

Jika toh ada stereotipe yang sering tercetus mengenai pernikahan beda bangsa, ya mungkin budaya pasangan tersebut dengan kita memang sangat berbeda, ditambah dengan perbedaan yang fisik yang mencolok ya jadilah stereotipenya terbentuk…

Jika memang berbeda, tidak bisa dibandingkan (mengomentari sih boleh… )

Jika hampir mirip baru bisa dibandingkan…. 

“Pasangan hidup itu perkara sederhana, seperti dua orang yang saling melengkapi dan berkembang kearah yang sama-sama dituju bersama…. “

Kearah yang sama inilah yang menjadi awal penentuan pasangan dan harus benar-benar ditelaah dan tidak sekedar karena seks, ingin selalu dekat, terpaksa, memilih karena usia, habis kuliah lalu menikah, dikejar-kejar keluarga, dsb.

Mau pasangan beda negara atau sama negara, pernikahan sejatinya selalu sama esensinya….

Living happily together with the ups and downs of life. Have a nice love life… Happy go Lovely !! ^_^

Advertisements

21 thoughts on “A mixed marriage, is it really that different ?

  1. rahma says:

    Aku punya pacar beda negara. Awalnya dikenalin teman entah kenapa semuanya berubah jadi rasa cinta…kami memiliki visi dan misi yang sama tentang hubungan ini. Dinegaranya pun dia sudah memperkenalkan aku sebagai wanita yang akan menemaninya di masa depan. Walaupun tidak bertemu secara langsung dengan mereka saat itu. Tapi,Beberapa hari yang lalu dia memutuskan hubungan kami dengan alasan hubungan seperti ini tidak akan terjadi. Karena aku seorang PNS dia tdk mau menikah dengannya aku harus meninggalkan segalanya yang sudah kubangun sendiri dan bersama dengannya yang seorang WNA. Dia bekerja sebagai IT network engineer dan seorang Muslim…sekedar berbagi dengan mba…mungkin bisa meringankan perasaanku saat ini…terima kasih

    Like

    • Sekar Nareswari says:

      Halo mbak Rahma..
      Ikut sedih tahu ceritanya. Jadi sekarang sudah putus hubungan ?
      Iya mbak… hubungan percintaan, beda negara atau tidak pasti akan ada namanya conflict of interest.. dan at the end, if it is about a relationship then the decision is about what to choose to have a good future for the relationship. 🙂 Salam hangat dari Belanda mbak… terima kasih sudan berbagi… really appreciate it.

      Like

      • rahma says:

        Sehari setlah pemutusan itu, he called me back and ask me to delcont his BBM PIN, block his FB and others media that we use to communicate…I said I don’t have delete anything…it seems like I still want to give another try to this relationship…but he didn’t wanto to…he said it’s impossible to happen…both of us has important Job…
        Something that makes me upset is…dia tau dari awal aku di indonesia dan bekerja aku sdh pernah ingatkan bahwa semua ada konsekuensinya tetapi dia mengatakan everything is possible…
        Akhirnya karna aku ga mw delcont, blokir dan sebagainya…dia meminta izin untuk melakukannya sendiri…terus terang sakiiiit banget mba karena sudah nyantol di hati tetapi memang benar hubungan seperti ini jika terjadi adalah suatu keajaiban bagi kedua belah pihak….salut dengan yang bisa melaluinya

        Like

  2. Devi Kennedy says:

    Sekar : Thanks buat sharenya ..aku suka loh baca tulisan kamu.. beruntung banget aku punya suami bule yang sayang banget sama aku..ibaratnya aku itu princess buat dia ..selalu diperlakukan special, katanya wife happy then life happy 😀

    Duuhh.. tapi jadi ikut sedih pas baca cerita Rahma.. pasti ada laki2 lain yang Tuhan kirim buat kamu suatu hari nanti Rahma..sabar and banyak doa ..

    Like

      • rahma says:

        Dan 10 jam setelah pemutusan sepihak itu…dia meminta aku balik sama dia…katanya apapun yg terjadi dia ingin berusaha paling tidak mencoba untuk bisa hidup bersama nantinya…katanya I’m part of his life….I made him in pain for 10 hours…dia merasa membuat keputusan yang salah padahal belum mencoba apapun untuk kami…susah memang tapi bukan berarti tidak mungkin…dan kalopun kedepannya tidak, at least ada usaha yg kami lakukan…dan saya harap semuanya baik2 saja apapun hasilnya….let’s pray…

        Like

  3. atha says:

    Mw tnya dengan mbak Rahma…ngomong2 aku jg menjalin hubungan dengan pria bule. Namun, sy msh kurang serius mengingat status sy sbg PNS. Klo menikah dgn nya, apakah scra otomatis status pekerjaan sy selaku PNS hrs sy tinggalkan?Mengingat sy tdk begitu suka utk sekedar tinggal di rumah sj.Mohon penjelasannya. Benar2 berat hrs meninggalkan pekerjaan,tp sy jg mencintai dia. Huhuhuhu…huhu.

    Like

    • rahma says:

      Waahh mba atha sy dan mba keliatannya sama2 senasib yaaah…memang susah mba klo kita terikat dengan pekerjaan disuatu birokrasi. Kecenderungan untuk hidup sebagai PNS memang menjamin hidup kita sampai tua. Berhubungan dengan kasus kita yang sama memang agak dilematis disuatu sisi jika melepas status PNS kita trus menikah dengannya dan otomatis pindah kenegaranya, gimana?masih bisa kerja gak? Sy sempat menanyakan hal ini dengan pasangan saya (sebaiknya memang dibicarakan dri awal), sy tanya apakah dia punya masalah hidup di dua negara? Dan jawabannya dia merasa fine2 aja seperti itu. Karena sy juga tdk bisa memaksanya untuk tinggal di indonesia karena kepikiran…di indonesia mau kerja apa? WNI sendiri sj susah dpt kerja apalagi WNA pasti lebh ribet lagi urusannya. Belum lagi berbagai perbedaan dengan negara kita dan anggapan dalam keluarga sy bahwa hubungan seperti ini bukan hubungan yang serius (maaf keluarga sy masih sdikit kaku)…jadi memang harus dipikirkan matang2 dan berdiskusi jangan sampai apa yg kita perjuangkan dan kita korbankan malah menjadi bumerang buat kita. Sy tidak meragukan dia bahwa di negaranya sya akan ditelantarkan tetapi terkadang tinggal dirumah saja tanpa pekerjaan bukan pilihan yg baik juga. Saya pernah berpikir untuk mengambil izin belajar untuk lanjut S3 dinegaranya. Untuk sekarang itu yang sy pikirkan. 4-5 tahun untuk memikirkan sambil melihat kondisi dan memutuskan apakah kita akan melepas status kita sy rasa bisa sy pertimbangkan. Intinya kita tdk mungkin seumur hidup berkeliaran antara 2 negara dan saling terpisah satu sama lain. Salah satu dr kita harus mempertimbangkan dan memutuskan untuk memilih. Dalam hati saya tetap menjadi PNS atau tidak itu masalah rejeki, kita bisa bekerja apa saja dan dimana saja kalau kita punya pendidikan yang baik…jadi jika suatu saat nanti sy harus melepas PNS saya paling tidak sy masih memiliki pendidikan dan ilmu…jika memang harus bersama dia seumur hidup dan yakin bisa bahagia, melepas status PNS itu tidak akan menjadi masalah…kita masih bisa berkarir dimana saja…
      Itu dari sy mba sekarang sy masih sekedar menikmati saja. Apapun hasilnya saya serahkan pada Tuhan YME. Termasuk memutuskan untuk melepas status PNS sy. Prosesnya pasti akan banyak halangan dan rintangan tapi kita cukup berusaha yg terbaik saja. Sisanya serahkan pada sang khalik…
      Sy senang sekali jk bisa berbagi lbh banyak dengan mba…boleh saya minta emailnya mb atha? Terima kasih

      Like

      • atha says:

        Makasi banyak mbak Rahma atas jawabannya. Sepertinya yg Anda bilang diatas benar2 sangat mewakili perasaan saya. Dilematis. Benar2 bingung dengan status kerja. Apalg, ayah sy tipe org yg cukup kaku. Agak sulitnya baginya utk melihat sy melepas status PNS,dibawa pergi ama pria bule,tinggal di negara yg hmpir tidak ada satupun keluarga saya ada disana. Benar2 sebuah pengalaman baru bagi keluarga saya. Huff..ff. Akibat rasa dilema sprti itu, sy mmutuskan utk berhenti komunikasi dgnnya beberapa hari yg lalu. Jujur, salah saya jg krn tidak mberitahukan alasan sy yg sebenarnya knpa hrs mmutuskan komunikasi dengannya. Hingga kini, kami benar2 nggak komunikasi lg. Namun, jujur sy msh mencintainya. OMG. I’m in love with him. Kadang ingin balikan ama dia dan menjelaskan yg sebenarnya. Oya, email saya: atha_nieyou@yahoo.co.id. Sy senang ada teman berbagi cerita sprti ini,mengingat kita sama2 PNS.

        Like

      • eka says:

        Bagaimana ya caranya teman saya itu utk tinggal di indonesia. Kami berencana membuka toko kue. Dia pembuat kue kue di mall besar dia sdh pernah bekerja di negara maju spt dubai, cina, moskow dan singapura. Ia org turki cuma cabang tempat dia bekerja tidak ada di Indonesia. Skarang dia kerja dinegara Turki Habis lebaran dia kontrak di Cina..Minta infonya bagaimana apakah klo kami membuka toko kue saya dan dia legal.Bisakah saya menjadi sponsornya.Saat ini saya masih sebagai PNS. Bisakah dia membuat izin kunjungan utk bekerja di Indonesia dg sponsor saya pribadi.Benarkah klo sdh lima tahun tinggal di indonesia bisa mengajukan menjadi warganegara Indonesia.Klo sdh menjadi WNI mungkin bisa menikah dg PNS. Tolong info dari mba.trimakasih.

        Like

      • Sekar Nareswari says:

        Halo mbak Eka..
        Ada baiknya mbak Eka menanyakan kepada pihak kedutaan Turki di Indonesia untuk proses legalisasi permanent resident..
        Kemungkinan sih mbak Eka bisa jadi sponsor tunggalnya.
        Saya kurang tahu kalau sudah 5th tinggal di Indonesia apakah bisa menjadi WNI.
        Mungkin bisa saja menikah dengan WNI mbak kalau sudah jadi WNI.
        Sukses ya mbak.

        Like

  4. eka says:

    Oh jadi mba sekar pernah tahu ya klo secara pribadi bisa jadi sponsor orang asing utk tinggal di indonesia. Tetapi mengapa ada seorang isteri wni tidak bisa mensponsori suami dan anaknya yg WNA utk tinggal di indonesia tetapi hanya dgn kunjungan wisata 3 bulan yg bs diperpanjang sampai 6 bulan. Katanya kecuali sponsor dari tempat bekerja maksudnya perusahaan. Bagaimana menurut mba apakah mba pernah mendengar sponsor pribadi bisa.Mohon infox mba sekar.

    Like

    • Sekar Nareswari says:

      Kalau saya baca-baca dimilis ya sepertinya bisa mbak.. tetapi ya tetap ada persyaratannya ya… saya tidak tahu syaratnya apa. mungkin lebih baik langsung ke kedutaan supaya lebih jelas?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s