“I was bullied and I am proud of it”

Hari Minggu kemarin, saya melihat film berjudul “That’s what I am”. Berkisah tentang seorang remaja bernama Sam yang harus mengerjakan tugas kelompok berdua dengan  Stanley yang biasa disebut Big G.

Stanley adalah seorang ‘geek’ yang bertubuh besar, bertelinga besar dan sering menjadi bahan olok-olok temannya. Ia tidak pernah mengeluhkan hal tersebut dan Ia selalu berjalan tegap, belajar tekun dan murid paling pandai disekolah. Suatu kali Stanley ingin mengikuti kontes bakat menyanyi.

Siswa yang sering mengoloknya sudah bersiap akan melempar tomat kepanggung namun Sam menggagalkan usaha tersebut. Diakhir cerita Stanley bernyanyi dengan lantang, jernih dan Ia dapat bernyanyi meski tidaklah luar biasa. Sam berujar “Ia berani maju dan meraih masa depannya. Ia memiliki martabat pada dirinya sendiri, aku salut padanya”.

———————————

Saya jadi teringat kisah hidup saya sendiri sewaktu SMA. Saya bukan siswa populer, tidak cantik, dan menjadi bahan olok-olok karena kulit saya yang tidak putih seperti teman-teman yang lain. Memang tidak saya saja yang diolok-olok oleh beberapa siswa tetapi saya menjadi bagian komunitas ‘geek’. I was bullied by some students. They said I don’t have lighter skin. My skin is brown, dark brown and in this community, pretty means having a lighter skin.

Olok-olok ini berlangsung selama hampir 3 tahun.

Stanley dalam film tersebut mengingatkan saya bahwa martabat terhadap diri sendiri tidak ditentukan oleh perkataan orang lain terhadap diri kita.  We are the one who decides how we stand up for our dignity.

Saya masih ingat, semakin mereka mengolok-olok kulit saya yang tidak ‘putih’, semakin saya berjalan tegap dan tidak peduli.

Jika mengingat masa lalu saya, saya menikmati masa SMA saya karena saya senang belajar, belajar apa saja. Fokus saya setiap hari adalah belajar.

Ya, saya memiliki teman tetapi tidaklah banyak. Teman yang memahami saya dan saya memahami mereka jauh lebih besar artinya daripada menjadi populer dan cantik.

Dibalik olok-olok mereka, saya menjadi pribadi yang menghargai diri saya sendiri.

Percaya atau tidak, saya menjadi lebih percaya diri dengan kulit saya yang sawo matang.

Apakah perilaku diolok-olok ini berhenti hingga kuliah ? Tentu tidak.

Saat kuliah, saya justru mendapat perlakuan diremehkan oleh banyak orang karena ibu saya adalah dosen difakultas tempat saya belajar. Hampir tidak ada yang menganggap hasil kerja saya serius, nilai saya yang A selalu dianggap hasil rekayasa.

Tetapi, sekali lagi, semakin orang lain meremehkan saya, semakin saya berjalan tegap dan lebih fokus dalam meraih keinginan saya. Cita-cita saya adalah lulus dengan nilai A, IPK diatas 3.00 dan mendapat beasiswa.

Persepsi orang lain terhadap saya adalah masalah mereka. Masalah saya adalah diri saya dan cita-cita saya sendiri.

I have my own dignity dan lebih baik berjalan dijalan yang menyenangkan daripada berjalan pada jalan yang orang lain inginkan terhadap kita.

Setiap orang memiliki martabat terhadap dirinya sendiri hanya terkadang kita ingin memiliki martabat yang sama nilainya dengan orang lain.

Tetapi itu tidak bisa… Setiap orang berbeda, setiap orang memiliki kemasannya sendiri dan itulah indahnya diri kita.

Saya tidak cantik, tidak populer, tertutup tetapi saya menyayangi diri saya sendiri dan saya pun dapat membagi rasa sayang ini kepada orang-orang terdekat saya.

Dignity + Love = Peace within ourself.

Martabat diri sendiri + Cinta kasih = Kedamaian didalam hati. ^_^

“I was bullied and I am proud of it, it shapes me to be a strong person yet understand what is love” 

Advertisements

6 thoughts on ““I was bullied and I am proud of it”

  1. gita says:

    like it more than 1 milyarr…me too i was bullied too hanya karena saya tidak langsing, tp sprti dirimu, saya memilih untuk menyayangi diri sendiri

    Like

  2. yusrizalihya says:

    beberapa orang sukses, kebanyakan dulunya adalah seseorang korban bullying. Tapi dengan tempaan bullying itulah mereka menjadi semakin baik dan semakin baik tiap harinya.
    Kita memang di-bully, tapi bila kita sanggup melewatinya, maka tidak ada jalan lain di hadapan kita selain jalan keberhasilan hidup.
    So, don’t worry to bullied!
    Seperti biasa, memotivasi mbak 😀
    saya pun salah satu lulusan akademi bullying dari masa SD-SMA, hahaha
    tapi kini saya pun membuktikan dan membuat para penyebar bullying itu bertekuk lutut. haha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s