If you can let go of your dream, you probably should !

Sejak lulus kuliah, saya tidak pernah berkeinginan untuk bekerja diperusahaan besar, multinasional dengan gaji berlimpah.

Saya selalu ingin menjadi seorang dosen. Ya, dosen, pengajar, guru.

Tetapi ibu saya tidak mengijinkan saya untuk menjadi seorang dosen. Beliau berkata, kemampuanmu bisa lebih dari seorang dosen, carilah lagi mimpi yang lain.

Saya merasa bingung. Mimpi saya menjadi seorang dosen, mengajar, melakukan penelitian, menganalisa, itulah mimpi saya.

Kenyataan memang berkata lain, kesempatan saya untuk menjadi dosen memang sangat kecil dikota tempat tinggal saya. Saya tidak mungkin menjadi dosen diuniversitas tempat ibu saya juga menjadi dosen. Saya juga tidak dapat menjadi dosen diuniversitas lainnya atas sebab dan lain hal.

Dalam isu ini, mimpi saya tidak indah lagi. Meskipun saya berusaha sekeras apapun, sepertinya hati saya tahu, saya tidak mungkin menjadi dosen. Ini hanya mimpi saya. Saya merasakannya. Jika memang tidak akan terjadi, meskipun dengan usaha keras dan dedikasi tetaplah tidak akan berjalan dengan baik.

—————————————————–

10 tahun sesudah saya lulus, inilah saya. Saya  bukan seorang dosen, bukan pula seorang peneliti. Saya menyebut diri saya, pengelola kantor yang saya cintai sepenuh hati. Tugas saya adalah mengelola kantor milik saya sendiri, menjadi konsultan HRD, psikolog dan trainer untuk bidang people development.

Setelah saya rasakan, inilah sebenarnya mimpi saya 10 tahun lalu. Inilah kehidupan yang ingin saya jalani !!

Sebenarnya saya tidak pernah benar-benar ingin menjadi dosen. Mimpi saya adalah berbagi ilmu dengan orang lain.

I don’t feel gave up my dream. Saya tidak pernah merasa mengorbankan mimpi saya. Saya mengorbankan pilihan “kendaraan” yang saya inginkan untuk meraih mimpi saya. Saya pikir saya akan mengendarai “kendaraan” sebagai dosen, tetapi ternyata “kendaraan” saya adalah biro psikologi milik saya sendiri, saya kelola sendiri dan saya dapat berbagi ilmu sebanyak apapun tanpa adanya birokrasi yang menyebalkan.

The truth, if you happen not having the chance at whatever it is, you want in life and you never stop trying, you will spend your life trying.

Jika memang tidak ada kesempatan menggunakan “kendaraan” yang kamu inginkan untuk mencapai mimpimu, mungkin memang sebaiknya mengganti “kendaraannya”.

Saya benar-benar harus berkata jujur kepada diri saya bahwa ternyata menjadi dosen bukan kendaraan yang saya pilih.

Sehingga saya pun dengan legowo akhirnya memilih untuk menerima beasiswa short-course daripada beasiswa post-graduate. Ya, karena saya tidak akan membutuhkan gelar master saya dari negara Belanda untuk kebutuhan mimpi saya… Saya butuh kendaraan yang lebih efisien, tangkas, cekatan untuk memberikan saya kemudahaan mengelola kantor dan berbagi ilmu.

Jika kita dapat melepaskan mimpi kita, mungkin seharusnya kita lepaskan mimpi kita secara legowo.

Jika kita tidak dapat lepaskan, ya tidak usah lepaskan, tapi terima juga dengan legowo.

You must examine the pursuit of your dream, yours !

Hadapi dengan jujur apa sebenarnya keinginan kita yang paling mendasar ?

Seringkali kita bersikukuh bermimpi pada satu profesi, satu bidang, satu pekerjaan tanpa benar-benar menyadari apa sebenarnya mimpi mendasar kita yang paling dalam.

Mimpi manusia sebenarnya hanya ada 1 : hidup yang lebih nyaman.

Hidup lebih nyaman ini bisa lebih banyak uang, lebih meningkat karir, lebih rileks, lebih tenang hati, lebih merasa tidak sendirian, dan sebagainya.

Keinginan mendasar ini kadang disalah artikan menjadi, ingin jadi artis supaya uang banyak, jadi manager supaya punya karir, lebih tenang harus punya pacar dan mimpi kita berkisar pada hasil akhir saja… jadi artis, jadi manajer atau harus punya pacar, harus menikah, dsb.

Jika ingin menjadi kaya mendadak, uang berlimpah ruah, jangan bermimpi jadi penyanyi bila suara pas-pas’an. Jadi harus menciptakan sesuatu yang spektakuler yang kemudian menjadikanmu kaya mendadak.

Seringkali tidaklah terlalu jelas kalau mimpi kita berada pada ukuran yang salah, warna yang salah, dan bentuk mimpi yang salah.

Jika kita tahu mimpi teman kita berada pada kendaraan yang salah, memberinya harapan seperti memberikan kendaraan dengan kunci tapi tidak ada mesinnya. Sampai kapanpun teman kita juga tidak akan sampai tujuan.

Lebih baik, berikan kendaraan yang ada mesinnya  dan beri petunjuk bagaimana mencari kuncinya. Begitupun juga bila terjadi pada kita…

Mengharapkan sesuatu sepenuh hati, bukan berarti kita hebat dibidang tersebut. Kita hanya mengharapkan dengan sepenuh hati tapi belum tentu dengan sepenuh kekuatan asli yang kita miliki.

Melepas satu mimpi yang memang bukan mimpi yang tepat bukanlah kegagalan karena masih ada banyak “kendaraan” yang dapat kita gunakan untuk menggapai mimpi yang lainnya atau menggapai mimpi yang sama tetapi hanya beda jalur… seperti ingin menjadi wirausaha.. mungkin sekarang belum saatnya, mungkin 10 tahun lagi.. 🙂 take a deep breath, analize your emotion and your dream very carefully…

The thing about dreams: Mimpi untuk satu orang akan sangat berbeda dengan mimpi orang lain, tidak akan pernah ada mimpi yang sama.

Hanya diri kita sendiri yang tahu, mimpi kita ini hanyalah sekedar mimpi yang salah kendaraan atau memang kita harus melepas mimpi kita dan menggantinya dengan mimpi yang lain…. Selamat mencapai mimpi-mimpi kita !  Spend your life with the right dreams !! ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s