“How dare you !”

How dare you !

Ini adalah kiasan singkat yang tajam dan mengindikasikan bahwa hati kita terluka karena seseorang telah melukainya.

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan “Don’t Think Outside Your Box!” https://sekarnareswari.wordpress.com/2012/02/20/dont-think-outside-your-box/

Saya menulis tema ini karena terinspirasi oleh beberapa konflik yang terjadi dan memaksa saya untuk membesarkan box saya sehingga hati dan pikiran saya lebih lapang dan dapat menerima pola pikir baru.

Ingatan saya kembali saat masih awal kuliah. Bukan, bukan saya yang bertengkar tetapi teman baik saya.

Ia merasa bahwa teman dekatnya telah mengkhianatinya. Saya juga mendengar cerita yang sama dari teman dekatnya. Entah mana yang benar ceritanya, hati kedua teman saya terluka dan keduanya ingin berteriak lantang “how dare you!”

Lain waktu, saya mengetahui sebuah kisah tentang seorang wanita yang merasa sangat marah karena ia merasa bahwa seorang kenalannya menghina dirinya. Ia marah sekali hingga ia luapkan kemarahannya dalam sms yang ia kirimkan dan menelponnya sembari berteriak “how dare you ! I’m not like that!”

—-

Kebutuhan primer adalah makanan, minuman, rumah dan pakaian. Biasanya kebanyakan orang dan teman yang saya temui serta saya sendiri, telah dapat memenuhi kebutuhan ini, bahkan berlimpah-limpah. Jika kebutuhan primer telah terpenuhi, kita akan mencari-cari kebutuhan lainnya.

Pemenuhan kebutuhan adalah sebuah peran sebagai manusia. It gives us meaning on what life is.

Jika kebutuhan primer telah terpenuhi, kita akan menggantinya dengan kebutuhan sekunder atau tersier. Biasanya, kita akan menggantinya dengan keinginan, dan keinginan terbesar dan terdalam setiap manusia adalah “merasa dihargai”.

Perasaan penghargaan ini dapat terlihat dengan jelas pada film Godfather, Once Upon A Time in America, Mean Street, Scarface, dimana keinginan yang sangat kuat akan penghargaan dan hal tersebut tidak terpenuhi sehingga terekspresikan dalam sebuah kemarahan, amukan, kekerasan.

Kemarahan tersebut timbul karena terpicu adanya perasaan bahwa seseorang telah memperlakukan diri kita dengan tidak hormat.

How dare you ! seperti saat Don Corleone memerintahkan sebuah rencana pembunuhan, saat kita membunyikan klakson mobil saat seseorang mengambil jalan kita, saat seseorang menyerobot antrean ATM, saat kita sudah berusaha bekerja sangat giat tetapi bos tidak mempedulikannya……

Pada peristiwa tersebut, kita tidak hanya berteriak “How dare you!” tetapi kita ingin berteriak kencang “How dare you do this to me!”

“Berani-beraninya kamu memperlakukan aku seperti ini!”

Keinginan kita untuk dihargai orang lain menimbulkan tuntutan lain terhadap orang lain yaitu perilaku ! Manner !

Ya, kita ingin dihargai… It’s normal, everyone, every each one of us wants to be appreciated.

Lalu kita membuat semacam peraturan didalam diri kita bahwa seseorang seharusnya berperilaku seperti ini dihadapan saya. Jika tidak… maka itu bukan suatu bentuk penghargaan.

Nah, tuntutan ini yang berbeda antara satu orang dengan yang lain.

Hal ini yang menyebabkan konflik antar individu. Bentuk tuntutan perilakunya berbeda !

Jika dua orang memiliki makna penghargaan dan tuntutan perilaku yang sama maka kemungkinan besar mereka akan berteman dengan baik. 🙂

Sebagai contoh, bentuk penghargaan yang dirasakan A & B adalah jika seseorang menghargai apa yang telah dicapainya berdasarkan hitungan finansial.. sehingga mereka menuntut orang lain untuk berperilaku menghormati berdasarkan hal tersebut. Jika tidak, maka mereka akan terluka hatinya.

Lain halnya, teman saya C yang merasa bahwa penghargaan tidak dihitung dari jumlah nominal tetapi kerekatan networking yang ia jalin dan prestasi yang telah ia capai, sehingga ia akan merasa sangat dihargai bila seseorang memandangnya sebagai sosok yang memiliki banyak networking, teman, dan sebagainya. Jadi bila seseorang menyinggung pendapatannya dan apa yang dipakainya, maka ia tidak akan (terlalu) merasa terluka hatinya.

The meaning of “How dare you do this to me!” is very subjective…

Tetapi dasar pemikirannya sama… penghargaan dan berperilakulah yang menghargai diriku.

Jika seseorang berteriak “How dare you do this to me !!” maka sebenarnya hatinya terluka karena merasa tidak dihargai….

It’s up to us… untuk juga meneriakkan hal yang sama atau berusaha untuk memahami…

Setiap orang ingin merasa dihargai.

Saling berteriak “how dare you” sama saja seperti kompetisi berteriak paling keras tanpa ada pemenangnya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s