“harusnya dia tahu dong….”

Beberapa hari lalu, saya dan sahabat saya memutuskan untuk mencoba warung siomay yang tidak pernah kami kenal sebelumnya. Kami ingin mencobanya karena setiap kali lewat jalan tersebut, selalu ramai…

Kami masuk dan memilih tempat duduk. Belum juga duduk, ada 2 orang laki-laki yang menyapa kami dan bertanya  “dari fakultas kedokteran ya?”

Saya jawab “bukan” sembari senyum.

Dia bertanya lagi “lalu, fakultas mana?”

Saya jawab lagi “sudah kerja” sembari senyum (lagi).

Singkat kata, terjadi tanya jawab yang terus menerus  (agak melelahkan) karena sepertinya 2 orang laki-laki tersebut ingin mengetahui identitas kami dengan detail. Ya, kami tahu, mereka tertarik dengan kami. Teman saya, diam saja. Saya yang menjawab pertanyaan.

Tetapi lama kelamaan, saya jadi agak malas menjawab karena saya sudah mau makan tetapi mereka terus bertanya…

Untunglah akhirnya mereka selesai makan dan pulang tetapi masih berusaha untuk mengajak berkenalan yang akhirnya mereka putus asa dan pulang tanpa hasil.

Sesudah mereka pulang, sahabat saya langsung berujar dengan nada datar tapi ramah “yah, kalau aku sih, gak aku jawab dari awal”.

“Hmm, bener juga ya… tapi?”

“Akhirnya kamu repot sendiri kan?” kembali ia berujar.

“Hmmm, bener juga…”

Pendapat sahabat saya memang benar 100%. Kalau memang dari awal tidak mau jawab kenapa berlagak seperti membuka diri untuk tanya jawab ?

Keputusan saya waktu itu adalah, ya saya harus bersikap sopan, menjawab dengan tersenyum.

Ah !! Inilah kesalahan saya.

Saya menganggap bahwa saya telah mengirimkan sinyal yang pas kepada 2 lelaki tersebut. Sinyal “tolong mas, saya gak tertarik dengan pembicaraan ini”. Sayangnya, sinyal saya ternyata kurang pas… karena saya menjawab dengan sopan, tersenyum ramah.

Ya, inilah yang sering kita lakukan. Memberikan sinyal kepada orang lain tanpa meninjau lebih jauh karakter dan kebutuhan orang lain.  Sehingga kita memberi sinyal berdasarkan pikiran kita sendiri. Lalu kita akan merasa terjebak karena ternyata sinyal yang kita kirimkan kurang mengena.

Konflik sering terjadi karena asumsi : “harusnya dia tahu dong”, “dia kan udah gede, masak sih musti aku kasih tahu”, dan sebagainya…

Kita menganggap orang lain memiliki pemahaman yang sama dengan kita tanpa kita berusaha memahami pemahamannya terhadap situasi yang terjadi sehingga sering muncul… “seharusssssnyaaaaa…..kamu tuh….”

Yah, kata ‘seharusnya’ akan muncul dengan agresifnya bila kita sudah mentok dan tidak tahu lagi menghadapi situasi tersebut.

Jika terus menerus berlanjut maka pertengkaran demi pertengkaran akan terjadi. Capek ? Iya. padahal awalnya dari hal sepele karena pengiriman sinyal yang salah.

Jika waktu makan siomay itu, saya berusaha untuk dengan cermat memahami keinginan 2 lelaki tersebut maka saya tidak akan mengirimkan sinyal ramah, murah senyum dan baik hati. Mereka mengira saya membuka diri untuk perkenalan padahal saya hanya ingin ramah saja.

Jika saya bisa dengan cermat  memahami keinginan mereka dan tidak hanya berasumsi “seharusnya mereka tahu bahwa saya cuma ingin ramah” maka saya akan menjawab pertanyaan mereka dengan baik tanpa murah senyum, tegas dan sopan sehingga niscaya mereka paham bahwa saya berusaha sopan dan tidak tertarik dengan sesi perkenalan ini karena saya ingin ngobrol asik dengan sahabat saya.

Fyuihhh, meski situasi tersebut berlangsung singkat namun membuat saya tersadar bahwa seringkali saya berasumsi sendiri mengenai pikiran orang lain dan perasaan orang lain tanpa bertanya secara langsung kepada mereka. Jikalau saya berasumsi lagi, semoga asumsi saya pas dan sinyal saya jg pas…. ^_^

Advertisements

8 thoughts on ““harusnya dia tahu dong….”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s