Manusiawikan sebuah kritik

Beberapa waktu lalu saya berjumpa dengan seorang gadis yang marah sekali karena telah dikritik oleh temannya. Menurut dia, temannya itu tidak tahu apapun tentang dirinya dan hanya mencela dirinya.

Meskipun dalam hati saya berpikir, kritik temannyaa itu sebenarnya betul adanya dan sangat-sangat menggambarkan gadis yang marah tersebut. Gadis tersebut lalu berujar “kritik itu kan dari sudut pandang orang lain, bukan dari sudut pandangku, kok berani-beraninya kritik, mending dia yang berubah dong kalau gak mau urusan sama aku”.

Wow ! Saat itu saya sadar…

Jika saya marah kepada seseorang karena mengkritik saya, saat itu juga sebenarnya saya juga sudah mengkritik orang lain dan tidak membuka celah bagi diri saya untuk memahami mengapa orang lain mengkritik saya.

Kritik itu sebenarnya luar biasa menakjubkan efeknya. Tapi prosesnya penerimaannya memang luar biasa menyakitkan.

Bayangkan, kita ini sebagai sosok dewasa kok ada yang kasih pendapat bahwa kita ini salah, kita ini kurang bener, kita ini begini, begitu… wahhh…egonya sakit ya ?

Kritik seolah-olah hal yang mengerikan, yang sepantasnya diterima dengan negatif.

Padahal, kita ini kan juga manusia.

Mengkritik dan dikritik itu sangat manusiawi sekali. Jika ingin tetap manusiawi ya tetaplah mengkritik dan dikritik. Perkara sakit hati itu jg manusiawi… tetapi jika sakit hatinya terlalu lama, itu pilihan manusia.

Sebenarnya pusat sakit hati kan dari ego.

Jleb ! begitu rasanya kalau ego kita terkena kritik. “berani beraninya !!” pasti ingin berteriak lantang seperti itu.

Nah, daripada kehabisan energi untuk bilang “aku sakit hati”… kenapa gak bilang ke ego “ini manusiawi !”.

Saya sakit hati karena dikritik. That’s it.

Yang mengkritik saya jg manusia yang berhak mengkritik. That’s it.

Jadi, saya kena kritik itu manusiawi. That’s it.

Ya, that’s it !

Jika kritik masih diwarnai ego, kemarahan bukan tentang kritikannya pasti tentang individunya. Pasti !

Jika ego bilang “no problem”, kemarahannya pasti ke diri sendiri karena ingin berubah lebih baik. Pasti !

Ya, kritik itu manusiawi kok…

Sesempurna apapun kita, pasti orang lain kadang merasa bahwa sebaiknya kita perlu lebih baik untuk menjadi lebih dewasa… No one perfect. That’s it. Accept it. Including me !

Kritik. Sakit hati. Lumrah.

Kritik. Sakit hati. Bertahun-tahun. Marah ke orang yang kritik. Itu kekanak-kanakan dan tidak lumrah.

Jika kita berhak mengkritik orang lain maka orang lain berhak mengkritik kita.

Marahlah kepada diri sendiri karena kita membuat orang lain jengkel sehingga dikritik, bukan marah ke orang tersebut karena mengkritik. Hei, kita hidup berdampingan bukan hidup sendiri.

So, manusiawikanlah sebuah kritik karena hidup kita penuh dengan kelebihan dan kekurangan dan dengan kritik kita bisa menjadi manusia lebih baik.

Saya ini kenyang dengan kritik dari kecil, sampai detik ini wah jangan heran…banyak yang memberikan kritik untuk saya, kadang saya juga meminta dikritik.

Untungnya kritik untuk saya selalu berubah setiap tahun, so, I’m better each year !!

Bukannya sombong karena saya tetap saja dapat kritik but it’s fun ! Kapan lagi bisa tahu kekurangan kita kalau bukan dari kritikan teman.

Happy go Lucky with Kritik !!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s