“Jadilah orang yang baik hati, nak”

Ada satu kalimat bijak dari ibu saya yang selalu saya ingat dan berusaha saya lakukan hingga sekarang.

“Jadilah orang baik, nak”.

Yes, it’s cliche. Orang baik. Baik itu apa sih ? Seberapa baik orang bisa dikata baik ?

Sewaktu saya kecil, saya sama sekali tidak memahami dan tidak mau tahu arti kalimat tersebut. Yah, normal. Semua orang pasti ingin jadi orang baik dan saya pun menjalani hidup yang baik menurut saya. Tapi saya tidak benar-benar menyadari apa arti kalimat tersebut. Toh saya juga tidak tahu beda antara baik, agak baik dan jahat. Bagi saya waktu kecil ya setiap orang inginnya berbuat baik.

Sewaktu remaja, saya semakin tidak mau tahu arti kalimat tersebut. Baik, kurang ajar, cepat marah, semua jadi satu makna. Maklum masih remaja. Egoisme tetap nomer satu. Baik ya artinya saya dapat yang saya mau. Itu baik. “Jadilah orang baik, nak” Wah…ya itu jauh dari pemikiran saya. Pokoknya saya senang, orang lain senang, ya itu baik. Saya mau sesuatu, gak keturutan, marah, ya itu wajar. Teman-teman juga begitu kok.

Sewaktu saya beranjak dewasa, usia saya sekarang 31 tahun, saya kembali disadarkan pada kalimat tersebut. “Orang baik”. Pengalaman hidup menghantarkan saya pada realitas bahwa memang ada perbedaan antara kebaikan dan kejahatan. Ya, saya harus bilang kejahatan. Saya bukan tipe orang yang akan bilang kebaikan dan kurang baik karena pengalaman hidup memaparkan kenyataan bahwa memang ada orang-orang yang berlagak seperti saya waktu remaja yaitu tidak mau tahu arti kebaikan dan akhirnya memutuskan untuk menjadi jahat. Jangan apatis dulu dengan arti jahat ya, jahat disini berarti ya memang tidak ingin berbuat baik.

Lalu apa sih arti “jadilah orang baik”.

Arti kalimat tersebut tidak akan ditemukan pada kamus. “Jadilah orang baik” itu akan terumuskan bila kita sudah pernah melihat, merasakan, menerima perlakukan yang tidak baik dalam waktu lama hingga kita benar-benar paham bahwa kebaikan itu benar-benar ada dan menjadi orang baik itu hal yang harus disadari.

Saya belajar bahwa menerima kenyataan hidup dengan lapang adalah salah satu tahap menjadi baik. Saya belum pernah merasakan kebaikan yang sejati dari sosok yang masih belum lapang menerima kenyataan hidup. Sosok tersebut berbuat baik, iya benar.. tetapi karena norma sosial yang mengharuskannya berbuat baik.

Banyak sekali perbuatan baik diartikan sebagai perbuatan membantu orang yang kurang mampu…”saya lebih mampu, jadi saya memberikan apa yang saya punya kepada mereka yang tidak punya.”, “saya punya uang, saya akan memberi uang”, “saya punya ketrampilan, saya akan memberi ketrampilan kepada yang tidak punya”, “saya gembira, saya akan memberi penghiburan kepada yang tidak gembira”.

Ya benar, itu baik hati. Tetapi saya bilang, itu perbuatan yang normal, wajar dan harus dilakukan. Jika tidak dilakukan maka akan melanggar norma sosial. “Masak sih, memiliki suatu lebih tetapi tidak memberi.” Nah !! Itu sudah hukum alam. Tidaklah perlu digembor-gemborkan. Namanya juga timbangan, siapa yang lebih yang memberi yang kurang, jadi seimbang.

Lalu, apa sih sebenarnya berbuat baik ?

Baik hati, berbuat baik bagi saya adalah memiliki hati yang baik dan selalu melakukan tindakan dari mulut, mata, panca indera untuk kebaikan hati diri sendiri dulu. Bagaimana mau baik dengan orang lain bila hatimu sebenarnya tidak pernah baik ?

Baik hati itu bukan tindakan. Baik hati itu adalah hati yang baik. Semuanya berawal dari hati.

Jika kamu bisa memberikan lebih kepada orang yang kekurangan maka kamu jika bisa memberikan lebih kepada orang yang sudah berkelebihan ! Nah, itu baik hati, bagi saya.

Baik hati tidak memandang kepada siapa saya berhadapan. Yang terpenting adalah hati. Jika hatimu baik kepada dirimu sendiri, maka kebaikan itu tidak hanya selebar daun kelor untuk kepentingan norma sosial, memberi kepada yang kekurangan.

Baik hati itu senyum kepada orang yang kita pikir menjengkelkan, bekerjasama dengan tulus dengan rekan kerja yang egois, marah besar lalu meminta maaf dengan tulus, secara ksatria mengakui kelebihan orang lain, dan selalu selalu selalu melakukan tindakan baik karena untuk kebaikan hati bukan karena ingin dianggap baik atau karena melakukan hal memang seharusnya dilakukan.

“Jadilah orang yang baik hatinya, nak”

Baik. Kebaikan akan terumuskan dengan sendirinya kalau seseorang menerima dengan utuh arti baik didalam hatinya dengan lapang. Sehingga kebaikan hati bukan lagi sekedar tindakan norma dan ragawi tetapi memang suatu kesatuan didalam hati. Jika masih merasa baik adalah mengikuti norma sosial maka ia akan menganggap hal yang tidak mengikuti norma sosial adalah hal yang kurang baik.

“Jadilah orang baik, nak”

Jadilah orang yang menerima sejati dirimu dengan utuh, menerima kebaikan dirimu sendiri dan menerima kebaikan hidup dengan lapang, nak. Itu petuah ibu saya.

Terima kasih ibu. Menjadi orang baik, itu bukan sekadar tindakan tetapi hati yang tulus yang dimulai dengan menerima keberadaan diri sendiri dengan utuh dan senyum. Seterusnya maka kebaikan akan menjadi bagian dari diri kita bukan tindakan karena norma. Baik hati ya berarti hatinya baik kepada siapa saja, yang kekurangan dan yang berkelebihan.

Advertisements

3 thoughts on ““Jadilah orang yang baik hati, nak”

  1. edy pekalongan says:

    halo mbak sekar. saya suka pesan di dalam tulisan ini. getarannya sampai di hati. kalo ada waktu dan mau. saya undang mengisi postingan sebuah topik di blog saya. temanya apa saja… terima kasih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s