Apa sih kebutuhanku ?

Siang tadi saya sedang ngopi-ngopi dengan teman dekat saya. Lalu saya menyadari bahwa terjadi keheningan yang cukup lama karena kami sibuk dengan bacaan dan blackberry kami tentu saja… Kemudian, entah apa yang ada didalam pikiran saya, saya mencetuskan nama seseorang dan umurnya yang notabene cukup mengherankan saya karena ternyata usia seseorang tersebut masih sangat muda. Saya kemudian bertanya kepada teman saya “tahu gak kalau si R, usianya masih 23 tahun.”, Teman saya menjawab “oh ya…”. Lalu hening….

Malam ini, mendadak saya terpikir, jangan-jangan teman saya berpikir bahwa saya mengajaknya bergosip ?

Bagaimana kalau ia menceritakan ke orang lain kalau saya menggosipkan si R ?

Padahal, saat saya berujar tentang usianya…tujuan saya sebenarnya hanya ingin memecah keheningan dan berlanjut kepercakapan apapun…. yang ternyata tidak berhasil.

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa apa yang saya inginkan pasti sesuai dengan yang saya butuhkan tetapi belum tentu orang lain menangkap apa yang saya butuhkan. Saya harus memahami juga kebutuhannya karena jika 2 orang bersama-sama secara fisik tetapi memiliki kebutuhan berbeda maka akan timbul perbedaan persepsi mengenai apa yang diinginkan satu dengan yang lain.

Saya menginginkan percakapan tentang R, karena saya butuh sebuah percakapan untuk menghilangkan keheningan.

Ternyata teman saya, menginginkan keheningan karena ia butuh konsentrasi dalam membaca.

Saya tidak dapat melihat kebutuhannya dan dia tidak dapat melihat kebutuhan saya. Akhirnya tujuan saya tidak tercapai dan tujuannya terganggu karena kebutuhan saya.

Rumit ?

Saya jelaskan begini,

Jika saya ingin mendapatkan kebutuhan saya, sebaiknya saya memahami betul kebutuhan orang lain juga. Lalu saya bisa mencari cara yang tepat bagaimana kebutuhan saya terpenuhi dan kebutuhan orang lain tidak terganggu karena saya.

Jika saya membutuhkan percakapan untuk memecah keheningan, mungkin saya bisa melihat ke judul buku yang teman saya baca… lalu percakapan dapat timbul dari sana….

Namun, kadang kala…

Saya merasa kebingungan menentukan apa sih sebenarnya kebutuhan saya…

Seringkali saya menemukan diri saya di sebuah warung makan atau toko roti dan mengambil roti. Saya membayar dan berjalan ke tempat parkir, saya bertanya “lah..apa saya butuh roti ini sih? kenapa juga saya beli? saya sudah makan tadi….”

Ya, kesalahan mempersepsikan kebutuhan dapat mengakibatkan kesalahan dalam mengambil keputusan.

Saya membeli roti karena ternyata saya masih terlalu pagi untuk datang ke kantor…. Jadi saya putuskan mampir ke toko roti, padahal sudah sarapan…

Ya tentu saja, saya bisa bagikan roti saya ke teman-teman tetapi perilaku saya seperti impulsif dan tidak terkendali. Jika saya benar-benar menyadari bahwa saya hanya membutuhkan waktu 20 menit sebelum masuk kantor, saya bisa tetap kekantor, merapikan meja saya, membuka jendela, membersihkan meja atau bahkan menengok orang tua saya barang sebentar saja… Nah, seandainya saya tidak salah mengartikan kebutuhan saya, maka saya bisa melakukan banyak hal yang lebih berguna dan lebih bermanfaat bagi diri saya dan orang lain.

Yah, malam ini saya hanya berharap, semoga teman saya tidak menduga bahwa saya ingin bergosip….

Selamat memilah dengan teliti akan kebutuhan kita ya ! Happy go Lucky ! ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s