a “me-time”

Seringkali “a me-time” diartikan sebagai waktu yang diberikan diri sendiri untuk menyenangkan diri sendiri. Biasanya hal ini berkaitan dengan kelelahan fisik dan kelelahan emosi dan kita ingin mengistirahatkan diri kita supaya rileks dan tenang.

Jadi waktu untuk diri sendiri harus benar-benar dicari ya ?

Bukankah setiap waktu adalah waktu untuk diri sendiri ?

Kita seringkali merasa bahwa perihal lain selain untuk diri kita sendiri adalah menyita waktu kita.

Pekerjaan menyita waktu kita. Bertemu dengan teman kadang menyita waktu kita. Sehingga seolah-olah waktu yang kita pergunakan untuk sesuatu atau seseorang yang bukan kita adalah beban. Kita harus memberikan waktu kita kepada mereka dan kita kehilangan waktu untuk diri kita sendiri.

Bukankah saat kita mengerjakan tugas (yang menjengkelkan) itu adalah waktu kita juga ?

Bukankah saat bercakap-cakap dengan orang yang cerewet sekali, itu adalah waktu kita juga ?

Kita diberikan anugerah terpenting dalam hidup, yaitu waktu.

Waktu untuk kita, ya setiap waktu.

Bukan saat kita sedang sendiri tidak ada siapa-siapa dan menyenangkan diri sendiri.

Di masa lalu, saya melihat waktu seakan-akan terbagi menjadi beberapa bagian. Satu bagian untuk kantor, bagian lain untuk orang tua saya, dan bagian yang lain untuk teman saya. Sisa waktunya untuk saya sendiri, bisa membaca, menulis, melakukan riset, atau pergi jalan-jalan sore.

Tetapi saya sekarang berupaya untuk tidak lagi membagi waktu seperti itu. Saya menganggap waktu bersama orang tua saya adalah waktu saya sendiri juga. Ketika saya membantu teman dalam kesulitan, saya berusaha untuk menganggap waktunya sebagai waktu saya sendiri juga. Saya menemani suami saya mencari file yang hilang, berbagi kehadirannya dan mencari cara agar bisa menikmati apa pun yang sedang ia dan saya lakukan saat itu, meski itu sedang mencari sebuah file yang hilang. Waktu untuk orang lain adalah waktu saya juga. Hal yang sama saya terapkan juga untuk pekerjaan. Waktu untuk pekerjaan adalah waktu untuk saya juga.

Hal yang menakjubkan adalah sekarang saya mempunyai waktu yang tidak terbatas untuk diri saya sendiri.

Ya, kadang kala saya masih merasa jengkel, jenuh, dan tidak menyadari keajaiban yang diberikan waktu kepada saya dan bersungut-sungut karena merasa orang lain merebut waktu saya.

Tetapi saya selalu berusaha untuk mengingatkan diri saya bahwa apapun yang saya lakukan setiap waktu itu adalah waktu untuk diri saya termasuk saat saya sedang bersungut-sungut, marah dan merasa bahwa orang lain menyita waktu saya.

Apa yang saya tuliskan ini, jauh lebih sederhana dari yang ada dipikiran. Setiap waktu adalah waktu kita. Sadari setiap waktu adalah milik kita… apapun yang terjadi saat itu. Gembira, bertemu teman lama, sedang in-charge pada suatu proyek workshop, berpergian pada saat udara panas, bercakap-cakap dengan seseorang yang menyebalkan saat pekerjaan menumpuk… itu adalah waktu kita untuk diri kita sendiri… Waktu seseorang saat meluangkan waktu dengan kita, juga waktu mereka sendiri juga. Jadi tidak ada yang mengambil jatah waktu orang lain. Pada satu momen, dua orang bertemu untuk menggunakan waktu mereka sendiri-sendiri.

That’s “a me-time” according to me… :-) Saat anda membaca tulisan ini, ada menggunakan waktu anda untuk membaca… dan saya sangat berterima kasih karena anda telah membacanya… ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s